Kamis, 11 Februari 2016

Untukku

Ku pahami kini, ttg diriku yg mengalami semua hal dlm fase perubahan. Ketika aku mendengarkan kisah banyak org ditelingaku, atau melihat org2 disekitarku. Maka akupun bs memahaminya, karena apapun yg mereka ceritakan ttg kehidupannya atau apapun yg aku lihat sudah menjadi suatu kepernahan utk diriku. Karena aku pernah berada diposisi mereka, karena aku sudah pernah berada pada fase tersebut
.
Ya semua nya butuh proses utk berubah ke kehidupan yg lebih baik dijalan Allaah, sm seperti sebuah bunga butuh proses utk tumbuh dan bagaimana bunga itu bisa berkembang dg bagus dan tak memerlukan waktu yg sangat lama, ya dengan cara dipupuk, dan disirami dg baik. Begitu pun fase dalam kehidupan, jika diri terus disirami dg pengetahuan agama yg baik, dan tahu dg Sang Illahi Rabbi, disirami terus dg sentuhan rohani keagamaan yg membawa hal positif mk diri kita akan terus berkembang ke fase yg lebih baik
.
Sekarang aku berharap takkan ceroboh dan gegabah lg dlm memilih jalan kehidupan ku
Ini bagian perjalanan hidupku yg pernah ku lalui dg banyak kesalahan dan kini tengah aku sudahi dan ku ubah pd yg lebih baik ke jalan Allaah Azza Wajallah
.
Banyak hal yg menjadi pembelajaran, ttg bagaimana seharus nya aku mengutamakan hubungan ku dg Allaah, bukan asyik memikirkan kehidupan dunia, bukan asyik terjerumus kedlm kesenangan dunia yg menyesatkan. Inilah aku yg sedang belajar banyak hal, bukan tentang berapa kali terus salah akan tetapi kesadaran diri dlm pencarian-Nya menuju jalan yg benar dlm ketersesatan. Kini yg tersisa hanya do’a utk pengampunanku, berdo’a tanpa ada waktu berhenti ketika tengah bertemu dg Nya, aku bahagia dg terus bisa kembali pada-Nya, mencaricariNya dan kini mendekatiNya lagi dan lagi. Aku ingin merasakan jatuh cinta padaNya, sangat ingin. Karena setiap kali aku mengingatNya maka Dia (Allaah) pun akan selalu mengingatku, ini sangat indah, sungguh sangat indah bagi hidup ku :')


Senin, 01 Februari 2016

Wahai Diri

*”Jika kau merasa besar, periksa hatimu. Mungkin ia sedang bengkak.
Jika kau merasa suci, periksa jiwamu. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani.
Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pajakan.
Jika kau merasa wangi, priksa ikhlasmu, mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya”
— Salim A. Fillah,

Kamis, 08 Januari 2015

Siapa diri kita?


Siapa diri kita ?
Hingga mampu membenarkan apa yang kita kerjakan.
Merasa yakin kita akan masuk ke surga.
Merasa bangga dengan jalan yang kita pilih.
Merasa besar daripada yang lain.

Padahal belum tentu... Kita yang akan masuk surga.

Ada orang yang selama hidupnya bergelimangan dosa. Ia sudah menjalankan seluruh maksiat. Tapi akhir hidupnya indah masuk kesurga. Karna niat dalam dirinya yang kuat untuk bertaubat.

Jadi jangan bangga dengan hidayah yang kini kita miliki.
Karna sejatinya perjalanan kita masih panjang dan tak tahu kapan mati menjelang.

Tidak tahu apakah kita mati dalam keadaan khusnul khatimah atau sebaliknya ?

Semasa hidup kita boleh berbangga diri merasa bersyukur hidup dengan menjalankan segala kewajiban dan menjalankan segala sunnahNya.

Tapi ternyata ketika menghadap kematian, Allah ambil hidayahnya dan Allah masukan ia ke neraka.

Karna apa ? Karna ternyata selama ini amalan yang dikerjalan hanya mengharap "pujian" dari manusia !!! Naudzubillah...

Selama ini ia ingin dipandang, dipuji, dan didengar oleh manusia. Hingga ia lupa bahwa Allah yang memberi segala kebaikan dalam hidupnya, adalah dzat yang maha pecemburu.

Jadi mengapa kita sombong dengan hijrah kita ??? Kita asingkan diri dari teman-teman yang tidak sepaham dengan kita.

Kita asik mencari kekurangan orang lain, sibuk menghias perjalan kita menuju surga, hingga kadang lupa ada keluarga, teman dan ummat yang masih menjadi tanggung jawab kita.

Kenapa harus mengekslusifkan diri ? Mengapa sulit untuk menunjukan ketawadhuan dengan duduk bersama mereka yang masih awam dan masih merangkak dalam mencari ilmu ?
Mengapa kita merasa benar dan yang lain salah ? Karna tak sejalan oleh pilihanmu ?

Jika pun benar mengapa sulit untuk mengajak dengan cara yang baik ? Mengapa harus mengejek ? Mengapa harus menggebuk, apa susahnya merangkul ?

Lupakah siapa kita dimasa lalu ??? Apa perlu Allah tunjukan aib2 kita pada mereka ???

Jangan merasa menjadi malaikat bila hati masih banyak penyakit.

Selasa, 30 Desember 2014

Hindarii!

Suudzon?
Tau DOSA! Lantas?
Bangga atas ucapan yang kamu sebut?
Tanpa kau sadari, syaithan telah berhasil mengodamu.
Menuduh dan memfitnah seseorang itu gampan, tidak sulit!
Karena memandang sebelah mata tanpa ada bukti yang nyata!
Tapi, coba tukar posisi dengan orang yang dituduh dan difitnah.
Kalau memang berasa enak dan suka diperlakukan seperti itu, coba tukar posisi.
Gampang ya menuduh dan memfitnah oran?
Lantas? Apa kamu tau gimana akitnya dituduh dan difitnah tanpa ada bukti yang nyata?
Gampang ya ngatai orang MUNAFIK dan SOK ALIM?
Lantas? Apa kamu tau diri kamu yang sebenarnya?
Istigfar lah sebelum kamu terlambat untuk terus ngatai orang yang seperti itu.
Mungkin saja saat ini kamu sudah merasa sebat dengan ucapanmu.
Mungkin saja saat ini kamu bangga dengan amarah yang kamu keluarkan dan ucapan yang kamu sebut.
Tapi coba fikir perasaan orang dan sakitnya  dituduh dan difitnah.
Allah berfirman:”Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagiaan dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantaramu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.(AL-HUJURAAT. 49:12)

Senin, 29 Desember 2014

Belajar Husnudzon yuk



“Belajar Husnudzon yuk”
Ketika ada yang berprasangka buruk terhadap kita, belajar husnudzin saja. Tentu kita semua sudah paham apa itu husnudzon. Husnudzon atau positive thingking memang bukan suatu yang mudah apalagi mengenai urusan pribadi kita.
Sungguh betapa indahnya jika kita selalu mengedepankan husnudzon kepada saudara-saudara kita. Dengan husnudzon, bisa menimbulkan kedamaian. Jika kita mempunyai kunci permasalahn, yaitu dengan husnudzon maka kita bisa menetralisir semua masalah yang ada.
Dengan husnudzon juga bisa membuat persaudaraan kita lebih awet. Dan akhirnya, hidup pun jadi lebih indah. Dan yang perlu kita ingat, wahai saudaraku. Sedikit saja kita berprasangka buruk kepada saudara kita, maka itu sudah termasuk dosa. Dosa bukanlah sekedar berbuat zina, membantah orang tua, meminum khimar dan sebagainya. Tapi ternyata.. kita berprasangka buruk kepada saudara kita walau dalam takaran sedikit saja sudah termasuk dosa. Apalagi bila kita menambahkannya dengan bumbu dosa lainnya, yaitu ghibah. Na’udzubillahi min dzalik. Adakah diantara kita yang mau memakan bangkai saudaranya sendiri? Saya yakin tidak ada yang mau, tapi pernahkah kita bermuhasabah diri kembali, hari ini sudahkah kita berhusnudzon kepada saudara kita? Tentu  hal ini menimbulkan tanda tanya yang besar buat mereka yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal tidak semua yang TAMPAK itu sesuai kenyataan. Dan bukankah salah satu karakteristik ahlu sunnah wal jama’ah adalah selalu mengedepankan husnudzondan mengajukan 1001 hujjah positif untuk saudaranya?
Jadi.. ayo kita kembali bermuhasabah diri dan tetaplah husnudzon dalam keseharian kita

Minggu, 28 Desember 2014

Renungan Malam



Dalam hidup ini,
Ada susah ada senang.
 Ada sedih ada gembira.
Ada benci ada rindu.
Ada sempit ada lapang.
Seperti roda yang berputar, bukan masalah kita sedang diposisi mana tapi apa yang kita lakukan saat berada diposisi manapun.
Maka kembangkan dua sayap kokoh yang akan menerbangkan dirimu. Syukur dan Sabar.
Syukur saat diberi nikmat, sabar saat diberi ujian.
Syukur saat Allah titipi, sabar saat Allah ambil kembali.
Syukur saat diamanahi, sabar saat Allah mengalihkan amanahnya.
Semoga kita tergolong hamba yang pandai bersyukur dan bersabar dalam hidup. Aamiin.

Kamis, 25 Desember 2014

Positive Thingking



Alhamdulillah berawal dari keinginan dan mimpi-mimpi yang terus dikatakan dengan baik. Dan terus dibicarakan, dipikirkan dan dilakukan, mencoba istiqomad dalam ber”positive” dalam segala hal. Hari ini banyak kabar baik dan hal-hal diluar dugaan terjadi. Meski didatangkan “ujian” pelajaran tentang apapun yang kita miliki kembali pada Allah dan titipan Allah, ketetapan Allah, tetap stay positive bahwa Allah pasti menggantikan dengan hal-hal yang indah yang terus ditancapkan dalam hati, adalah modal untuk jiwa agar tetap happy.
Dan lalu tiba-tiba saja  semua keinginan yang bahkan ada beberapa yang belum terucap tapi masih tersirat langsung di ijabah.
Jadi kesimpulan saya hari ini adalah teruslah berkata yang baik, yang positif, jangan takut bermimpi, dan bicarakan mimpi dan cita-cita kita, karena kata-kata adalah doa.. mungkin hanya berkata.. tapi sepelekan perkataan baik, berdoa dan mendoakan orang lain, jangan lupa Allah mendengarkan perkataan kita. Jadi teruslah berkata baik, berdoa baik dan berfikir positif tentang hidup dan keinginan kita.
Pahami semua yang kita miliki adalah titipan dari Allah, sertakan Allah dalam tiap langkah dan keinginan kita. Jika niat kita baik dan selalu berprasangka baik pada Allah. Insya Allah keinginan kita di ijabah oleh-Nya. Allah itu maha baik maha adil jadi jangan pernah takut untuk dikecewakan oleh Allah. Karena Allah satu-satunya yang tidak pernah mengecewakan kita. Beruntungnya kita, alhamdulillah punya Allah dalam hidup kita.
Semangat ya. Terus stay positive. Talk positive, pray positive, think positive do positive, atc positive and spread love and happiness everywhere. Dont forget to always gratefull and loving God.